DAKWAH YANG EFEKTIF DENGAN MENERAPKAN PRINSIP KOMUNIKASI ISLAM
Dalam berdakwah pasti ada hasil. Baik berupa perubahan perilaku mad’u maupun pemahaman mad’u. Namun tak banyak juga para da’i yang berhasil dalam membawakan pesan-pesannya saat berdakwah. Lalu bagaimana cara agar dakwah yang da’i lakukan berhasil atau berjalan dengan efektif? Untuk menguasai panggung pastinya semua da’i telah berhasil, tapi untuk menguasai mad’u agar fokus dan memperhatikan apa yang da’i sampaikan, adalah hal yang sulit bagi da’i. Nabi SAW pun dalam berdakwah tidak langsung orang yang mendengar dakwahnya mengikuti ajarannya. Tapi perlu proses yang berangsur-angsur. Hingga kemudian bisa berjaya dakwahnya hingga bisa dirasakan sampai kini.
Dakwah yang efektif itu seperti apa? Dakwah yang efektif adalah dakwah yang terjadi, dimana mad’u paham dengan apa yang disampaikan oleh da’i. Karena pemahamannya yang didapat saat mendengar da’i berdakwah bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dakwah yang efektif itu bukan dakwah yang dapat membuat semua mad’u tertawa riuh. Tapi dakwah yang efektif adalah dakwah yang dapat dipahami oleh mad’u apa maksud dari yang da’i sampaikan.
Agar dakwah berjalan secara efektif maka da’i harus memperhatikan dua poin penting, yaitu unsur-unsur komunikasi, dan prinsip komunikasi islam sebagai pondasi dalam berdakwah. Berikut ini kita akan membahas unsur-unsur komunikasi dan prinsip komunikasi islam. Yang pertama kita bahas adalah unsur-unsur komunikasi yaitu sebagai beikut :
Unsur-unsur komunikasi
Unsur-unsur komunikasi adalah dasar dari terjadinya komunikasi yang efektif. Begitupun dakwah akan efektif bila mana memperhatikan unsur-unsur komunikasi. Karena dakwah adalah bagian dari komunikasi maka saat berdakwah harus memperhatikan hala-hal yang diperlukan saat berkomunikasi. Untuk itu langsung saja kepembahasan unsur-unsur komunikasi yaitu sebagai berikut :
1. Komunikator (Da’i)
Komunikator adalah sumber pengirim pesan dalam proses komunikasi. Dalam dakwah komunikator disebut sebagai da’i, yaitu orang yang menyampaikan pesan dakwah. Dakwah tidak akan jalan tanpa adanya seorang komunikator / da’i. Karena da’i adalah hal yang utama dalam berdakwah, tidak ada kegiatan dakwah tanpa seorang komunikator atau da’i ini.
2. Pesan
Pesan disini adalah suatu yang dikirim oleh komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan secara verbal maupun non verbal. Dalam dakwah arti pesan sendiri adalah segala sesuatu yang disampaikan oleh da’i kepada mad’u baik melalui lisan, tulisan dan tindakan.
3. Saluran atau media
Media disini adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari komunikator kepada komunikan. Media ini bisa berupa alat panca indra langsung ataupun menggunakan alat komunikasi tambahan yang ada karena perkembangan teknologi.
4. Komunikan atau penerima pesan (mad’u)
Komunikan adalah orang yang menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Dalam bahasa dakwah komunikan disebut dengan kata mad’u. Dakwah yang efektif karena adanya orang yang menerima pesan dakwah. Tak akan terjadi sebuah dakwah jika tak ada seorang mad’u.
5. Akibat atau pengaruh
Akibat adalah sebuah perbedaan komunikan atau mad’u saat sebelum dan setelah menerima penyampaian pesan oleh komunikator atau da’i. Ini adalah kunci efektif tidaknya dakwah yang dilakukan oleh da’i. Karena dari poin ini dapat terlihat efektif tidaknya sebuah kegiatan dakwah.
6. Umpan balik (feedback)
Umpan balik bisa muncul karena adanya pengaruh dari pesan yang ditimbulkan. Umpan balik ini bisa berupa pertanyaan seorang komunikan kepada komunikator. Bisa juga umpan baliknya berupa sikap komunikan kepada komunikator. Umpan balik ini bisa juga disebut dengan respon dari komunikan. Dalam dakwah bisa dikatakan efektif jika umpan balik mad’u kepada da’i bisa berupa sikap. Contohnya, para mad’u memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh da’i, mad’u tidak bicara sendiri dengan mad’u lainnya. Ataupun bisa dikatakan efektif bila mad’u melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada da’i diaat sesi tanya jawab.
7. Lingkungan
Jalannya komunikasi yang efektif adalah karena komunikator memperhatikan lingkungannya. Unsur yang terakhir ini bisa dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, dimensi psikologis, dan dimensi waktu. Seorang pendakwah harus bisa memperhatikan lingkungannya disaat ia menyampaikan pesan dakwahnya. Yang harus diperhatikan di unsur ini oleh da’i agar terjadinya dakwah yang efektif adalah, dimana ia berbicara, dengan siapa ia berbicara, dan apa budaya sosial dilingkungan itu.
Itulah tujuh unsur-unsur komunikasi yang dapat mempengaruhi efektifnya sebuah kegiatan dakwah. Selain efektif karena adanya penerapan unsu-unsur komunikasi, dakwah juga belum sepenuhnya efektif jika tidak memperhatikan psinsip komunikasi islam. Prinsip komunikasi islam akan mempengaruhi bagaimana da’i menyampaikan pesannya dengan baik. Dan bagaimana da’i memperhatikan lingkungan dengan siapa ia berdakwah. Berikut adalah prinsip komunikasi islam yang ada dalam al-Qur,an.
Prinsip-prinsip komunikasi islam
Seorang da’i akan memperhatikan bagaimana cara menyusun kalimat dalam menyampaikan pesan. Bagaimana ia menyesuaikan intonasi bicara sesuai dengan lingkungannya saat ia berdakwah. Itu semua adalah bagaimana seorang da’i menguasai prinsip komunikasi islam. Langsung saja berikut adalah prinsip-prinsip komunikasi islam :
1. Qoulan sadidan (perkataan yang benar)
Prinsip komunikasi islam yang pertama adalah qoulan sadidan yang artinya adalah perkataan yang benar. Seorang pendakwah harus berkata dengan perkataan yang benar sesuai dengan yang dijelaskan dalam Q.S An-Nisa ayat 9.
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
Dalam ayat ini jelas diperintahkan untuk berkata yang benar, berdasarkan fakta yang ada. Tidak boleh seorang pendakwah mengada-ada akan pesan yang disampaikan. Semua yang disampaikan harus berdasarkan firman Allah dan sabda Nabi.
2. Qoulan Baligha ( tepat sasaran, komunikatif , mudah dipahami)
Qoulan baligha adalah berkata dengan perkataan yang mudah dipahami atau komunikatif. Dalam prinsip ini seorang da’i janganlah menggunakan perkataan yang yang mudah dipahami oleh para mad’u. Jangan menggunakan perkataan yang berbelit-belit yang menyusahkan mad’u untuk memahami apa yang da’i sampaikan. Qoulan baligha di jelaskan dalam Q.S An-Nisa ayat 63 :
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَوْلًا ۢ بَلِيْغًا
Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.”
Pada intinya dari penjelasan ayat ini adalah da’i harus menggunakan perkataan yang mudah diingat oleh para mad’unya. Supaya akibat dari penyampaian pesan yang dilakukan oleh da’i akan membekas, sampai mad’u kembali ke tempatnya masing-masing dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah prinsip yang sangat penting untuk diterapkan agar dakwah yang berjalan adalah dakwah yang efektif.
3. Qoulan Ma’rufa (perkataan yang baik)
Qoulan ma’rufa yang artinya adalah berkata dengan perkataan yang baik. Seorang da’i diharapkan berkomunikasi dengan perkataan yang baik dalam menyampaikan pesan kepada mad’u. Seorang da’i diharapkan dapat berkata dengan perkataan yang baik jangan menggunakan perkataan yang buruk. Karena dapat mempengaruhi efektif tidaknya sebuah dakwah. Qoulan ma’rufa tertulis dalam Q.S Al-Ahzab ayat 32 :
يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ
Artinya : “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.”
Ayat ini menjelaskan agar da’i berkata dengan perkataan yang baik, sehingga mad’u tidak akan salah mengerti. Jika seseorang da’i harus berkata dengan perkataan yang baik dapat menjaga citranya sebagai seorang da’i. Namun, jika da’i berkata dengan perkataan yang buruk maka akan membuat citranya tidak baik atau nama baiknya sebagai da’i ternodai dengan perkataannya sendiri.
4. Qoulan Karima (perkataan yang mulia)
Qoulan karima adalah berkata dengan perkataan yang mulia. Seorang da’i dalam prinsip ini harus berkata dengan perkataan yang mulia. Maksudnya perkataan yang mulia adalah perkataan yang diucapkan dengan rasa hormat dan mengagungkan mad’u. Walau posisi kita sebagai da’i kita harus memuliakan atau menghormati mad’u. Karena belum tentu seorang mad’u semuanya dibawah da’i namun ada mad’u yang lebih tinggi keilmuannya atau lebih tua usianya dari da’i yang sedang berdakwah ditempat itu. Maka haruslah seorang da’i menghormati mad’unya. Qoulan ini dijelaskan dalam Q.S Al-Isro ayat 23:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Pada dasarnya ayat ini menjelaskan bahwa seorang da’i harus memuliakan mad’u yang usianya lebih tua dari da’i. Disini dicontohkan sebagaimana saat kita berkomunikasi dengan orang tua kita. Jika da’i menghormati atau memuliakan mereka maka merekapun akan memuliakan ia.
5. Qoulan Layyinan (Perkataan yang lembut)
Qoulan layyinan adalah berkata dengan perkataan yang lembut. Seorang da’i tidaklah etik jika berkata dengan perkataan yang keras. Namun, da’i haruslah berkata dengan perkataan yang lebut. Baik nada, intonasi maupun kata yang terucap dari bibirnya. Qoulan layyinan dijelaskan dalam Q.S Thoha ayat 42-43 :
اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ
اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ
Artinya : “Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;(42) Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. (43)”
Lagi-lagi ayat yang menjelaskan tentang prinsip komunikasi islam adalah bagainama kita memperhatikan dengan siapa kita berbicara. Dalam ayat ini dijelaskan agar da’i berkata lembut disaat da’i menghadapi mad’u yang memiliki sifat seperti fir’aun. Agar mad’u luluh dengan perkataan yang lembut itu.
6. Qoulan Maysura (perkataan yang ringan)
Qoulan maysura adalah berkata dengan perkataan yang ringan. Seorang da’i harus berkata dengan perkataan yang ringan agar diterima oleh mad’u. Karena dalam satu kegiatan dakwah tidak semua mad’u memiliki tingkat pemahaman yang tinggi. Jadi da’i harus berkata yang ringan untuk mudah dipahami dan dicermati oleh mad’u. Qoulan maysura ini dijelaskan dalam Q.S Al-Isro ayat 28 :
وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا
Artinya : “Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.”
Dijelaskan bahwa dalam berdakwah harus dengan ucapan yang ringan kepada mad’u. Agar saat kita telah pergi berpaling kepada para mad’u, para mad’u tetap ingat dengan pesan-pesan yang disampaikan saat berdakwah.
7. Qoulan Tsaqilan (perkataan yang berat)
Qoulan tsaqilan adalah berkata dengan perkataan yang berat. Dalam artian dalam berdakwah da’i harus menyampaikan pesan yang berbobot. Dengan bahasan yang berbobot akan menambah wawasan mad’u. Walaupun pesan yang disampaikan berbobot namun janganlaha seorang da’i menyampaikan dengan bahasa yang tinggi pula. Namun terapkanlah qoulan yang lain untuk mempermudah menyampaikan pesan yang berbobot. Ini dijelaskan dalam Q.S al-Muzzammil ayat 5 :
اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا
Artinya : “Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.”
Jadi ayat ini menerangkan bahwa Allah sudah menurunkan fimannya dengan bahasan yang berat. Dengan harapan agar di dakwahkan kepada umat Nabi, dengan perkataan yang berat. Seperti yang telah dijelaskan diatas.
8. Qoulan Adziman (Perkataan yang agung)
Diprinsip yang terakhir ada qoulan adziman yang artinya berkata dengan perkataan yang agung. Dimana seorang da’i dianjurkan untuk berkata yang agung atau besar. Dalam artian bawalah pesan dakwah dengan berita-berita besar yang terbukti kebenaranya berdasarkan sumber dari firman Allah dan sabda Nabi. Ini dijelaskan dalam Q.S Al-Isro ayat 40 :
اَفَاَصْفٰىكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِيْنَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنَاثًاۗ اِنَّكُمْ لَتَقُوْلُوْنَ قَوْلًا عَظِيْمًا
Artinya : “Maka apakah pantas Tuhan memilihkan anak laki-laki untukmu dan Dia mengambil anak perempuan dari malaikat? Sungguh, kamu benar-benar mengucapkan kata yang besar (dosanya).”
Itulah prinsip-prinsip komunikasi islam yang dapat dijadikan dasar pegangan oleh da’i dalam berdakwah. Agar dalam berdakwah dapat berjalan dengan efektif. Berhasilnya suatu dakwah adalah tergantung bagaimana da’i menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u. Mungkin ini yang dapat kita bahas dalam tulisan kali ini. Jika dalam penulisan artikel ini banyak kesalahan dan kekurangan mohon koreksinya. Terima kasih
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar